Senin, 14 Maret 2011

Terkenal di langit

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru,rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al-Qur'an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit.

Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya.

Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.

Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya. Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur.

Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran.

Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam.

Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah "bertamu dan bertemu" dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum.

Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya.

Di ceritakan ketika terjadi Pertempuran Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah.

Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat?

Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa.

Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya.

Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata, "Pergilah wahai anakku! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang". Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama iapergi.

Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman.

Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya.

Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina 'Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais.

Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang.

Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman," Engkau harus lekas pulang".

Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina 'Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru.

Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit).

Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW, sayyidatina 'Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi sayyidatina 'Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.

Rasulullah SAW bersabda : "Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya." Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada sayyidina Ali bin Abi Thalib k.w. dan sayyidina [[Umar bin Khattab] r.a. dan bersabda, "Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do'a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi".

Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit.

Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka.

Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.

Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni.

 Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman.

 Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ? "Abdullah", jawab Uwais.

 Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan, "Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?" Uwais kemudian berkata, "Nama saya Uwais al-Qorni".

 Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan mendo'akan untuk mereka.

 Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah, "Sayalah yang harus meminta do'a kepada kalian". Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata, "Kami datang ke sini untuk mohon do'a dan istighfar dari anda".

Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo'a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya.

Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata, "Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi".

Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais, waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat.

Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di atas air.

Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. "Wahai waliyullah," Tolonglah kami!" tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi, "Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!" Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata,
"Apa yang terjadi ?"
"Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak?" tanya kami.
"Dekatkanlah diri kalian pada Allah!" katanya.
"Kami telah melakukannya."
"Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!"

Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut.

Lalu orang itu berkata pada kami ,"Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat". "Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? "Tanya kami.
"Uwais al-Qorni". Jawabnya dengan singkat.
Kemudian kami berkata lagi kepadanya, "Sesungguhnya harta yang ada dikapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir."
"Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?" tanyanya.
"Ya, "jawab kami.
Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat di atas air, lalu berdo'a.
Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan.
Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke Rahmatullah.
Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya.
Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.
Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, "ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar r.a.)

Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan.
Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang.
Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang.
Mereka saling bertanya-tanya, "Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal.
Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa "Uwais al-Qorni" ternyata ia tak terkenal di bumi tapi terkenal di langit.

Semoga bermanfaat.
Silahkan SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat.

Di Shared ulang di Catatan Catatan Islami Pages(FB)
read more "Terkenal di langit"

Jumat, 21 Januari 2011

Sumayyah binti Khubbath: Wanita Beriman Pertama yang Gugur Syahid


Kisah perjuangan Sumayyah sungguh indah dan menawan untuk didengar. Kisahnya memiliki pengaruh sangat kuat untuk generasi muslim sesudahnya. Dia menjalani kehidupannya dengan berbagai ujian dan cobaan; mulai dari ujian terkecil hingga yang besar. Sumayyah merampungkan ujian dalam kehidupannya dengan sebuah titel kesuksesan terbesar, yaitu kesyahidan. Dia terdaftar dalam urutan para syuhada yang akan menerima hadiah surga dari Allah dan hidup di sisi-Nya serta diberi rezeki melimpah.

Diceritakan bahwa ketika Islam mulai muncul ke permukaan, Sumayyah yang juga istri seorang syahid bernama Yasir dan ibu seorang syahid bernama Ammar itu segera menyambutnya, sehingga dia termasuk salah satu wanita beriman pada fase pertama kemunculan Islam. Bahkan dapat dikatakan bahwa Sumayyah adalah wanita pertama yang memberikan perlawanan kepada kaum musyrikin demi membela panji Islam. Ibnul Atsir mengatakan, “Dia adalah orang ketujuh dari tujuh orang yang mula-mula masuk Islam. Dia termasuk orang yang menerima siksaan berat demi Allah SWT.”

Ibnu Mas’ud berkata, “Orang yang mula-mula membela Islam ada tujuh orang; Rasulullah SAW, Abu Bakar, Bilal, Khabbab, Shuhaib, Ammar, dan Sumayyah.”

Di dalam bukunya, Nisaa` min ‘Ashri An-Nubuwwah, Syaikh Ahmad Khalil Jam’ah menegaskan bahwa dalam lintasan sejarah Islam, tidak dikenal seorang wanita yang memiliki kesabaran seperti Sumayyah. “Dia menjadikan kesabaran sebagai sebuah syiarnya,” tulisnya. Ini mengingat, dapat dibayangkan bagaimana keadaan seorang wanita yang sudah tua renta, namun mampu menghadapi siksaan yang begitu berat dari orang-orang kafir. Disebabkan keimanan kepada Allah, dia sanggup menghadapi berbagai kesedihan dan kesulitan.

... Sumayyah tidak seorang diri menghadapi pedihnya siksaan dan getirnya kehidupan. Dia menghadapi siksaan bersama seluruh anggota keluarganya...

Sumayyah tidak seorang diri menghadapi pedihnya siksaan dan getirnya kehidupan. Dia menghadapi siksaan bersama seluruh anggota keluarganya. Lecutan cemeti telah menghancurkan tubuh-tubuh mereka. Akan tetapi, keimanan yang kokoh kepada Allah laksana gunung karang yang tidak terpengaruh gelombang dahsyat ataupun angin yang hebat.

Dikisahkan bahwa Sumayyah diserahkan Abu Hudzaifah bin Al-Mughirah kepada keponakannya, Abu Jahal yang fasik. Meski kondisinya sangat renta dan ringkih, namun Sumayyah mampu menghadapi apa yang orang kuat sekalipun tidak mampu menghadapinya. Abu Jahal yang telah dihinakan oleh Allah mengambilnya dengan tujuan memuaskan rasa dengki di dalam hatinya, sekaligus mencabut akidah Islam yang tertanam di dada Sumayyah.

Menghadapi intimidasi Abu Jahal, Sumayyah memilih diam seribu bahasa dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Abu Jahal mengolok-oloknya dengan berkata, “Engkau tidak beriman kepada Muhammad, melainkan karena engkau merindukan ketampanannya.” Namun Sumayyah tetap tidak mau berbicara. Dia bertahan dari siksaan dengan rasa bangga. Karena dia merasa jauh lebih mulia daripada Abu Jahal dan para pengikutnya. Dia bangga dengan akidah tauhid yang diyakininya. Dengan tauhid, Sumayyah merasa ringan menghadapi siksaan yang pahit, karena dia yakin berada di jalan Allah.

...Menghadapi intimidasi Abu Jahal, Sumayyah memilih diam seribu bahasa dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Abu Jahal mengolok-oloknya...

Mengenai gambaran betapa beratnya siksaan yang dihadapi mereka, Ibnu Katsir menceritakan, dia menukil dari Ibnu Ishaq yang mengisahkan, “Ketika waktu zuhur tiba, Yasir, ayah, dan ibunya (Sumayyah) berangkat bersama Bani Makhzum. Mereka menyiksa keluarga Yasir di sekitar Kota Makkah. Rasulullah berlalu di dekat mereka seraya bersabda, “Bersabarlah wahai keluarga Yasir, dijanjikan surga untuk kalian.”

Lalu Al-Baihaqi, dengan sanadnya, meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulukllah berlalu di dekat Ammar dan keluarganya yang sedang menerima siksaan. Kemudian beliau bersabda kepada mereka, “Bergembiralah wahai keluarga Ammar dan Yasir, sesungguhnya telah dijanjikan surga untuk kalian semua.” (HR. Al-Hakim)

Ketika orang-orang musyrik telah merasa putus asa menghadapi ketabahan dan kesabaran Sumayyah, maka mereka membunuhnya dengan tombak yang dihunjamkan ke arah kemaluannya. Dan Sumayyah pun menjadi syahidah pertama.

... Ketika orang-orang musyrik telah merasa putus asa menghadapi ketabahan dan kesabaran Sumayyah, maka mereka membunuhnya...

Kerasnya intimidasi dan dahsyatnya siksaan kaum kafir Quraisy menyebabkan anak dan suaminya juga terbunuh di jalan Allah. Mereka terbunuh sementara keimanan dan keislaman tetap kokoh bercokol di dalam hati mereka.

Semoga Allah meridhai Sumayyah, anaknya, dan suaminya. Semoga mereka mendapatkan ampunan dari Allah, sebagai yang disabdakan Rasulullah, “Ya Allah, ampunilah keluarga Yasir, dan Engkau telah melakukan itu.”

Copas dari fattabiouni fans’ club
read more "Sumayyah binti Khubbath: Wanita Beriman Pertama yang Gugur Syahid"

Jumat, 19 November 2010

Busuknya Kebencian


Seorang Ibu Guru taman kanak-kanak (TK) mengadakan"permainan".
Ibu Guru menyuruh tiap² muridnya membawa kantong plastic transparan 1 buah dan beberapa kentang. Masing² kentang tersebut diberi nama berdasarkan nama orang yang dibenci, sehingga jumlah kentangnya tidak ditentukan berapa ... tergantung jumlah orang² yang dibenci.

Pada hari yang disepakati masing² murid membawa kentang dalam kantong plastik. Ada yang berjumlah 2, ada yang 3 bahkan ada yang 5. Seperti perintah guru mereka tiap² kentang diberi nama sesuai nama orang yang dibenci. Murid² harus membawa kantong plastik berisi kentang tersebut kemana saja mereka pergi, bahkan ke toilet sekalipun, selama 1 minggu.

Hari berganti hari, kentang² pun mulai membusuk, murid² mulai mengeluh, apalagi yang membawa 5 buah kentang, selain berat, baunya juga tidak sedap. Setelah 1 minggu murid² TK tersebut merasa lega karena penderitaan mereka akan segera berakhir.

Ibu Guru : "Bagaimana rasanya membawa kentang selama 1 minggu ?"

Keluarlah keluhan dari murid² TK tersebut, pada umumnya mereka tidak merasa nyaman harus membawa kentang² busuk tersebut kemanapun mereka pergi. Gurupun menjelaskan apa arti dari "permainan" yang mereka lakukan.

Ibu Guru : "Seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa² apabila kitatidak bisa memaafkan orang lain. Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk kemana pun kita pergi. Itu hanya 1 minggu. Bagaimana jika kita membawa kebencian itu seumur hidup ? Alangkahtidak nyamannya ..."

Created by Felice Sadira
read more "Busuknya Kebencian"

Sabtu, 13 November 2010

KEMUSYRIKAN DI TENGAH BENCANA MERAPI

    Isu dan prediksi yang meresahkan bermunculan seiring dengan menggeliatnya Gunung Merapi. Untuk itu, upacara tolak bala berupa penyembelihan kerbau pun digelar di Tugu  Yogyakarta.Upacara bernama asli kuat maheso luwung saji rojosunya ini diselenggarakan oleh paguyuban Tri Tunggal. Ritual ini memang dilaksanakan  terkait kondisi Yogyakarta yang tengah terkena bencana letusan gunung Merapi.
  “Selain karena bencana dalam hal ini Merapi. Upacara ini digelar untuk menepis prediksi yang menyebut akan melebur,” ujar pemimpin ritual yang sekaligus pendiri paguyuban Tri Tunggal, Romo Sapto, kepada wartawan di sekitaran Tugu Jogja, Senin (8/11/2010) malam. (Sumber: www.detik.com)
 
Menyembelih hewan untuk ritual dalam adalah perbuatan yang tidak boleh dipersembahkan kepada selain Allah. Barangsiapa yang melakukannya maka Allah melaknatnya.Ini sama saja saja menyekutukan Allah. Pelakunya telah melakukan kemusyrikan, yang apabila dia mati dalam keadaan tidak bertaubat darinya maka dia akan dihukum kekal di dalam neraka.Seluruh amalnya akan musnah bagaikan debu yang berterbangan. Penyesalan dan kesedihan, itulah kesudahan yang akan dia rasakan pada hari kemudian.
  Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Sesungguhnya sholatku, nusuk/sembelihan-ku, hidup dan matiku, semuanya adalah untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya, dan dengan itulah aku diperintahkan, sedangkan aku adalah orang yang pertama-tama pasrah.” (QS. al-An’am: 162-163).
  Sa’id bin Jubair dan adh-Dhahhak menafsirkan bahwa kata ‘nusuk’ dalam ayat tersebut bermakna ‘sembelihan’ (Qurrat al-’Uyun al-Muwahhidin, hal. 67). Ayat ini menunjukkan bahwasanya menyembelih dalam rangka ritual tidak boleh ditujukan kecuali untuk Allah. Ini artinya menyembelih termasuk jenis ibadah, sedangkan menujukan ibadah kepada selain Allah adalah kemusyrikan (lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 86). Barangsiapa yang menyembelih untuk selain Allah entah itu jin, berhala, ataupun kubur maka keadaannya sama dengan orang yang mengerjakan sholat dan beribadah kepada selain Allah
  Dalam ayat lainnya, Allah ta’ala memerintahkan (yang artinya), “Maka lakukanlah sholat dan sembelihlah kurban untuk Tuhanmu.” (QS. al-Kautsar: 2). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah…” (HR. Muslim). Dalil-dalil ini menunjukkan bahwa menyembelih untuk selain Allah dalam rangka ritual adalah perbuatan yang diharamkan. Tidak berhenti di situ saja, daging hewan yang disembelih untuk selain Allah pun haram untuk dimakan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Diharamkan atas kalian bangkai, darah, daging babi, dan daging hewan yang dipersembahkan untuk selain Allah…” (QS. al-Ma’idah: 3).
  Dari sini, kita bisa mengetahui bahwa perbuatan sebagian orang yang ingin menolak bala/bencana dengan cara menyembelih hewan untuk dipersembahkan kepada makhluk gaib (baca: jin) yang  menghuni tempat-tempat tertentu seperti gunung, laut, pohon, bangunan, dan lain sebagainya- merupakan tindakan yang sangat membahayakan. Perbuatan yang mereka lakukan bukan menolak bala, akan tetapi justru mengundang murka Allah ta’ala. Naudzubillah Min dzalik.
  Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, sungguh Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan bagi orang-orang zalim itu tidak ada penolong sama sekali.” (QS. al-Ma’idah: 72). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan masih akan mengampuni dosa-dosa lain yang berada di bawah tingkatannya, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. an-Nisaa’: 48). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang kafir yaitu dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik pasti berada di neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk.” (QS. al-Bayyinah: 6)
   Apabila umat manusia merasa takut terhadap ancaman bencana gempa, letusan gunung berapi dan gelombang Tsunami, maka sudah semestinya mereka lebih merasa takut terhadap musibah ini; musibah aqidah dan kehancuran iman yang menyesatkan kehidupan Selain itu , bukankah lebih baik jika daging hewan sembelihan tersebut diberikan kepada korbaan letusan Merapi (jika disembelih atas nama Allah) daripada dikubur untuk sesuatu hal yang jelas-jelas diharamkan?
read more "KEMUSYRIKAN DI TENGAH BENCANA MERAPI"

Jumat, 12 November 2010

Cinta Ia dalam Diam

Seseorang pernah mengukir untaian baris kata:
"Bila belum siap melangkah lebih jauh dengan seseorang, cukup cintai ia dalam diam..."

Karena diammu adalah salah satu bukti cintamu padanya...
Kau ingin memuliakan dia, dengan tidak mengajaknya menjalin hubungan yang terlarang, karena kau tak mau merusak kesucian dan penjagaan hatinya...

Karena diammu memuliakan kesucian diri dan hatimu...
Menghindarkan dirimu dari hal-hal yang akan merusak izzah dan iffahmu...

Karena diammu adalah bukti kesetiaanmu padanya...
Karena mungkin saja orang yang kau cinta adalah juga orang yang telah ALLAH pilihkan untukmu...

Ingatkah kalian tentang kisah Fatimah dan Ali?
Yang keduanya saling memendam apa yang mereka rasakan..
Hingga pada akhirnya mereka dipertemukan dalam ikatan suci nan indah...

Karena dalam diammu tersimpan kekuatan...


Kekuatan harapan...
Hingga mungkin saja ALLAH akan membuat harapan itu menjadi nyata hingga cintamu yang diam itu
dapat berbicara dalam kehidupan nyata...
Bukankah Allah tak akan pernah memutuskan harapan hamba yang berharap padanya?
Dan jika memang 'cinta dalam diammu' itu tak memiliki kesempatan untuk berbicara di dunia nyata,
biarkan ia tetap diam...
Jika dia memang bukan milikmu, toh ALLAH, melalui waktu akan menghapus 'cinta dalam diammu' itu
dengan memberi rasa yang lebih indah dan orang yang tepat...

Biarkan 'cinta dalam diammu' itu menjadi memori tersendiri dan sudut hatimu menjadi rahasia antara
kau dengan Sang Pemilik hatimu,
hanya antara kau dan Dia...

Di ambil dari Note of Auliya Al-Haq from Rabiul, 02 Mei 2010
read more "Cinta Ia dalam Diam"

Senin, 08 November 2010

Halal Haram Stem Sel

Beberapa waktu lalu angkatan 2010 mendapat modul A tentang stem sel. Bagaimana Pandangan Stem sel di ddalam prespektif islam?
Penelitian menggunakan stemcell atau yang lebih dikenal dengan istilah “Stemcell research” merupakan metode terbaru dalam bidang kedokteran dan biologi yang pada dasarnya dilakukan untuk menemukan solusi terbaik dalam mengobati berbagai penyakit yang sulit dicari obatnya seperti leukimia, Alzheimer, diabetes, dan penyakit Parkinson. Namun karena stemcell research menggunakan “manusia atau bagian dari manusia” sebagai bahan dasarnya, metode tersebut menyebabkan timbulnya pro dan kontra, terutama dari segi moral dan etika. Islam, sebagai agama yang berdasarkan kepada moral dan etika yang tinggi, tentu saja tidak dapat melepaskan diri dari perbedaan pendapat tersebut. Pandangan Islam mengenai Stemcell Research dapat menjadi masukan dan panutan yang sangat berharga bagi perkembangan stemcell research tersebut dan juga menghilangkan keraguan bagi pemeluknya yang bekerja atau berhubungan dengan stemcell research ataupun yang mempunyai penyakit yang membutuhkan pengobatan melalui stemcell research tersebut.


Definisi Stemcell dan Stemcell Research

Stemcell research adalah suatu metodologi penelitian yang menggunakan stemcell sebagai bahan dasarnya. Umumnya stemcell research diarahkan untuk “membuat” sel-sel tertentu yang merupakan bagian dari jaringan dan organ tertentu yang nantinya dapat digunakan untuk menyembuhkan suatu penyakit yang yang berhubungan dengan jaringan atau organ yang “dibuat” tersebut. Sel-sel “buatan” tersebut selanjutnya dijadikan sebagai donor bagi penderita penyakit tertentu.

Bahan dasar bagi penelitian tersebut ialah kelompok sel yang disebut sebagai stemcells yang diambil dari makhluk hidup (manusia). Stemcells adalah sel atau kelompok sel yang belum atau sedikit mengalami differensiasi sehingga mempunyai potensi yang sangat besar untuk di”atur” dan di”arahkan” menjadi jaringan atau organ yang di”rencanakan” oleh si peneliti. Secara umum, potensi sel untuk berdeferensiasi dibedakan menjadi empat yaitu: totipotent, pluripotent, multipotent, dan unipotent. Sel dikatakan bersifat totipotent apabila sel tersebut belum mengalami perubahan menuju bentuk tertentu (diferensiasi) dan mempunyai potensi untuk menjadi semua jaringan dan organ tubuh pembentuk makhluk hidup (manusia). Sel yang totipotent ini akan membentuk manusia utuh apabila di”tanam” di dalam kandungan (uterus). Contoh sel yang totipotent ini adalah sel telur yang baru saja dibuahi dan baru mengalami beberapa pembelahan (very early embryonic stages). Sel yang pluripotent adalah sel yang telah mengalami sedikit diferensiasi dan mempunyai kemampuan untuk membentuk banyak jaringan dan organ tubuh. Contoh sel yang pluripotent adalah sel yang diambil dari bagian dalam (inner cell mass) dari embryo yang berumur empat hari lebih dan kurang dari tiga bulan. Multipotent sel adalah sel yang telah lebih jauh mengalami diferensiasi sehingga hanya mampu membentuk beberapa jaringan dan organ tubuh saja. Contoh sel yang multipotent adalah sel darah yang hanya mampu membentuk jaringan darah dengan membentuk sel darah merah serta sel-sel lain yang berhubungan dengan darah misalnya leukocytes (darah putih) dan plateletts. Sel yang unipotent adalah sel yang telah jelas arahnya yaitu membentuk satu macam jaringan atau organ saja. Sebagian besar sel manusia mempunyai sifat yang unipotent.

Sel yang totipotent dan unipotent bukan merupakan “bahan” yang baik untuk stemcell research. Totipotent sel sangat sulit dikontrol sedangkan unipotent sel sangat sulit diubah atau diarahkan untuk membentuk sel dan jaringan yang diinginkan. Sel yang pluripotent dianggap sebagai sel yang paling baik untuk keperluan stemcell research. Karena diambil dari embrio, maka sel pluripotent tersebut dikenal pula sebagai Embryonic Stemcells. Multipotent sel juga banyak digunakan untuk stemcell research sebagai alternative dari penggunaan embryonic stemcells. Karena multipotent sel lebih akhir masa pembentukannya atau lebih dewasa, maka sel tersebut dikenal dengan istilah Adult Stemcells. Contoh adult stemcells adalah sel darah, sel dari sumsum tulang belakang (bone marrow), dan tali pusat (umbilical cord).

Cara mendapatkan stemcells

1. Cara mendapatkan embryonic stemcells

Ada beberapa cara untuk mendapatkan embryonic stemcells, yaitu:

1. Mengambil dari cabang bayi (embrio) yang di”donorkan” orang tuanya.

2. Mengambil dari embrio yang digugurkan atau keguguran.

3. Mengambil dari embrio “sisa pembuatan” bayi tabung.

4. Mengambil dari embrio yang “dibuat” secara therapeutic cloning.

Cara yang pertama hampir tidak pernah dilakukan, kalaupun ada proses tersebut lebih dekat ke proses nomor dua yaitu embrio yang didonorkan tersebut memang embrio yang telah direncanakan untuk digugurkan atau tidak diinginkan kehadirannya. Cara nomor 2 dan 3 merupakan cara yang paling umum digunakan oleh peneliti untuk mendapatkan stemcells. Cara ke 4 merupakan cara yang paling rumit karena harus “membuat” embrio terlebih dahulu dengan jalan menyuntikkan inti sel (nucleus) dari sel dewasa ke dalam sel telur yang telah diambil nucleusnya. Cara ini dikenal dengan istilah somatic cell nuclear transfer (SCNT) yang juga digunakan untuk “membuat” atau mengkloninng Doli si domba ajaib beberapa tahun yang lalu. Semua cara di atas harus merusak atau “membunuh” embrio agar dapat mengambil embryonic stemcellsnya (inner cell mass).

2. Cara mengambil adult stemcells

Adult stemcells dapat diambil dari sel atau jaringan dari tubuh orang dewasa, anak-anak, hewan, dan tali pusat. Beberapa adult stemcells yang sering digunakan dalam stemcell research dan pengobatan adalah haemapoetic stemcells (stemcells darah) yang umumnya didapatkan dari sumsum tulang belakang (bone marrow) dan neuronal stemcells yang diambil dari bagian otak manusia. Pengambilan adult stemcells tidak harus “merusak” atau “membunuh” donor karena hanya sebagian kecil jaringan saja yang diambil. Akhir-akhir ini, adult stemcells juga diambil dari orang yang sudah meninggal.

Kontroversi stemcell research

Kontroversi mengenai stemcell research umumnya berkisar kepada segi moral dan etika, karena stemcell research menggunakan organ atau jaringan manusia sebagai bahan dasarnya. Umumnya kontroversi tersebut berkisar pada penggunaan embryonic stemcells karena harus merusak atau membunuh (mengurbankan) embrio (cabang bayi) dalam proses pengambilannya. Kalangan yang kontra dengan embryonic stemcell research berpendapat bahwa membunuh “calon” manusia untuk kepentingan stemcell research tersebut tidak dibenarkan secara moral.

Kelompok yang pro dengan embryonic stemcell research terbagi menjadi beberapa kelompok, yaitu:

1. Kelompok yang mendukung stemcell research secara total dan menilai bahwa embryonic stemcells tidak mempunyai nilai moral. Kelompok ini mendukung semua bentuk stemcell research dan cara mendapatkan stemcells tersebut.

2. Kelompok yang memberikan nilai moral kepada embryonic stemcells namun menganggap bahwa manfaat yang didapatkan dari stemcell research tersebut jauh lebih besar dari “pengorbanan” yang dilakukan. Kelompok ini umumnya lebih hati-hati dan lebih menyarankan penggunaan “sisa” embryo dari klinik bayi tabung sebagai sumber bahan penelitin tersebut. Mereka memperkirakan bahwa ratusan ribu embryo tidak terpakai tersimpan di berbagai klinik bayi tabung. Banyaknya sisa embryo tersebut dikarenakan dalam proses pembuatan bayi tabung biasanya 10 sampai 12 sel telur yang dibuahi, tetapi hanya 3 atau 4 saja yang ditanam di dalam kandungan. Sebagian besar sisa embryo tersebut umumnya akan dibuang, hanya sebagian kecil saja digunakan oleh pasangan lain yang menginginkan anak. Dengan demikian penggunaaan sisa embrio tersebut sebagai bahan stemcell research dianggap lebih baik daripada dibuang sia-sia. Sebagian dari mereka juga menyarankan pembuatan embrio melalui SCNT dan kemudian memanen embrio tersebut sebagai bahan stemcell research.

Bagi kelompok yang kontra, embrio buatan melalui SCNT maupun sisa embrio dari klinik bayi tabung tetap merupakan “calon manusia” yang tidak boleh dibunuh atau dirusak. Namun umumnya mereka tidak tahu apa sebaiknya yang dilakukan terhadap sisa embrio dari klinik bayi tabung yang sudah harus dibuang karena sudah terlalu lama atau tak ada tempat penyimpanannya lagi.



Penggunaan adult stemcells sebagai bahan stemcell research tidak menimbulkan kontroversi karena proses pengambilan adult stemcells tersebut tidak bertentangan dengan moral dan etika kemanusiaan. Namun sebagain besar peneliti stemcell research kurang tertarik dengan penggunaan adult stemcells tersebut sebagai bahan penelitian mereka karena sel atau jaringan yang terbentuk dari adult stemcells tersebut sangat terbatas. Dari segi pengobatan, adult stemcells dianggap lebih baik karena umumnya diambil dari penderita sendiri sehingga tidak ada masalah dengan penolakan ketika ditransplantasikan ke tubuh penderita tersebut. Salah satu contohnya adalah pengobatan leukimia dengan jalan transplantasi sumsum tulang belakang. Salah satu kelemahan penggunaan adult stemcells untuk pengobatan adalah waktu yang cukup lama yang dibutuhkan untuk menumbuhkan stemcells tersebut agar cukup saat transplantasi. Waktu yang lama tersebut terkadang menjadi terlambat bagi penderita yang sudah sangat parah. Sumsum tulang belakang dapat pula didonorkan dari keluarga atau orang lain, namun resiko penolakan dari tubuh penderita sangat besar yang dapat membahayakan si penderita tersebut.



Mengenai kontorversi moral dan etika stemcell research, pemerintah Amerika Serikat, cukup arif dalam memandang perbedaan tersebut. Untuk mengakomodisir kedua pihak yang berseberangan, pemerintah Amerika Serikat membentuk satu tim penasehat presidenan yang dikenal sebagai BIOETHICS COMMITTEE. Tugas dari komite tersebut adalah memberikan nasehat kepada presiden Bush mengenai masalah-masalah moral dan etika yang muncul akibat perkembangan teknologi dan penelitian biomedis. Komite tersebut juga bertugas untuk mencari masukan mengenai isu-isu yang muncul dan berkembang dari penggunaan teknologi tinggi terutama dalam bidang biologi kedokteran serta sekaligus memonitor perkembangan stemcell research.



Kebijakan yang diambil oleh presiden Bush mengenai stemcell research adalah bahwa Pemerintah Amerika Serikat tidak membiayai stemcell research kecuali research tersebut menggunakan bahan dari 64 stemcell lines yang sudah terdaftar di National Institute of Health (NIH). Dari 64 lines tersebut, hanya 20 lines ada di Amerika Serikat, 19 lines di Swedia, dan sisanya tersebar dibeberapa negara. Selanjutnya NIH ditunjuk oleh pemerintah Amerika Serikat sebagai agen yang mengatur penggunaan dana (Federal funds) bagi stemcell research tersebut.



Alasan hanya membiayai stemcell research dari stemcell lines yang sudah ada adalah agar stemcell research tersebut tetap berjalan (mengakoodisir peneletian stemcell research) namun juga untuk mengakomodisir kubu yang kontra yang tidak menginginkan pajak mereka digunakan untuk membiayai penelitian yang mereka tidak setuju. Kebijakan pemerintah Amerika Serikat tersebut ternyata kurang berkenan bagi para peneliti stemcell research dan beberapa tokoh masyarakat karena dianggap sangat terbatas dan mengakibatkan perkembangan stemcell research di Amerika sangatlah lambat. Hal lain yang dikhawatirkan adalah larinya peneliti-peneliti handal ke negara yang bermodal besar. Walaupun pemerintah Amerika Serikat tidak melarang peneliti untuk menggunakan stemcells dari embrio baru dengan menggunakan dana swasta, namun dana swasta tersebut dianggap sangatlah kecil. Beberapa aktor terkenal seperti almarhum Christopher Reeve (mantan bintang film pemeran Superman dan juga penderita kerusakan saraf tulang belakang) dan Micahel J. Fox (penderita Parkinson) membentuk organisasi yang bertujuan untuk mengumpulkan dana bagi stemcell research.



Menurut pandangan Islam

Islam adalah agama yang sangat memperhatikan moral dan etika. Selain itu, Islam adalah agama yang berdasarkan pada akal, seperti sabda nabi bahwa tiada agama bagi yang tiada berakal. Sebagai agama yang berdasarkan akal tersebut, Islam sangat mendukung ilmu pengetahuan dengan menganjurkan pemeluknya (muslimin dan muslimah) untuk terus mempelajari ilmu pengetahuan tersebut dimulai dari usia yang sangat dini (dalam ayunan) sampai mati. Sejarah mencatat bagaimana Rasulullah SAW membuat penawaran pembebasan terhadap kaum kafir yang tertawan dengan syarat mereka mengajar ilmu membaca dan menulis bagi kaum muslimin yang banyak masih buta huruf pada saat itu. Selain itu, ayat AlQur’an yang pertama diturunkan, yaitu Iqra, memerintahkan agar umat Islam mendalami ilmu dengan membaca ayat-ayat Allah, baik ayat-ayat kauliyah (AlQur’an) maupun ayat-ayat kauniyah (alam). Selanjutnya, banyak sekali ayat-ayat AlQur’an yang memerintahkan manusia untuk berfikir dan mempelajari ilmu pengetahuan yang Allah SWT tunjukkan, termasuk ilmu pengetahuan berhubungan dengan makhluk hidup (misalnya penciptaan, tingkah laku, pertumbuhan, dan sebagainya). Tidak terkecuali tentunya dengan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan stemcell research, apalagi di dalam ilmu tersebut terkandung manfaat yang sangat besar bagi berjuta umat manusia yang mengalami penderitaan akibat sakit yang tiada berkesudahan dan sulit dicari obatnya.



Walaupun tidak secara gamblang dinyatakan di dalam AlQur’an mengenai stemcell research, namun sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, stemcell research mendapat kedudukan yang mulia dalam pandangan Islam. Islam mewajibkan umatnya untuk mempelajari ilmu tersebut secara mendalam sebagai pengabdian dan pengakuan terhadap kekuasaan Allah (Habluminallah) dan juga sebagai bentuk tanggung jawab terhadap sesama manusia (hamblumminannaas). Namun sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, agama Islam juga tidak melupakan nilai moral dan etika dalam penelitian tersebut. Karena belum ada hukum Islam yang mengatur mengenai Stemcell research, maka masalah ini akan menimbulkan pro dan kontra pada banyak ulama dan ahli fiqh terutama pada penggunaan embryonic stem cells. Secara hukum, penggunaan embryonic stem cells lebih dekat dengan hukum menggugurkan kandungan yang “diharamkan” menurut Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Musyawarah Ulama tahun 1972 dan Musyawarah Nasional (Munas) MUI tahun 1983. Namun Fatwa MUI tersebut ada pengecualiannya yaitu memperbolehkan menggugurkan kandungan apabila kandungan tersebut membahayakan si ibu atau membawa penyakit menular yang berbahaya. Karena pengguguran kandungan untuk tujuan riset (stemcell research) sangatlah berbeda dengan pengguguran kandungan dengan alasan kesehatan, maka diperlukan hukum atau dalil tersendiri untuk memutuskan boleh tidaknya stemcell research dengan menggunakan embryonic stemcell dari hasil menggugurkan kandungan. Tidak disangsikan lagi, hukum tersebut akan menimbulkan perdebatan yang cukup alot antara kubu yang pro dan kontra stemcell research. Apapun keputusannya, stemcell research dengan menggunakan embryonic stemcell kemungkinan besar akan terus berlanjut.



Pemanfaatan janin yang mengalami keguguran atau janin “sisa” hasil pembuahan bayi tabung untuk kepentingan stemcell research mungkin tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Janin tersebut lebih berguna daripada dibuang secara sia-sia. Pemanfaatan tersebut dapat juga menjadi ibadah bagi pelakunya karena digunakan untuk kemaslahatan umat manusia. Khusus mengenai bayi tabung, fatwa MUI memperbolehkan asal sel telur dan sperma untuk membuat bayi tersebut adalah dari kedua orang tua yang sah menurut hukum Islam, sehingga janin sisa tersebut dapat digunakan untuk kepentingan stemcell research.



Pembuatan stemcells melalui SCNT (kloning) mempunyai tendensi untuk menimbulkan perdebatan yang sengit pula. Selama ini belum ada fatwa ataupun hukum fiqih yang mengatur mengenai kloning tersebut. Walaupun demikian, sebagian besar ulama “mengharamkan” kloning dengan alasan proses tersebut tidak melalui hukum Islam (misalnya perkawinan) dan ikut campurnya fihak ketiga dalam proses reproduksi tersebut. Namun, perlu diperhatikan bahwa kloning untuk keperluan stemcell research mungkin berbeda dengan kloning untuk mendapatkan keturunan yang dalam hukum Islam harus melalui ikatan perkawinan. Jika dirunut secara teliti, proses kloning sebenarnya merupakan pembuktian kebenaran AlQur’an dalam proses pembuahan Nabi Isa A.S., yang tiada berayah.



Islam adalah agama yang sederhana dan mudah dimengerti dan diamalkan oleh umat manusia. Dalam Islam, niat merupakan sesuatu yang sangat fundamental. Dengan demikian, niat dalam melaksanakan stemcell research tersebut sangat menentukan baik buruknya stemcell research. Apabila stemcell research digunakan untuk membantu umat manusia, misalnya menyembuhkan manusia dari berbagai penyakit, maka kegiatan tersebut adalah sangat baik. Sebaliknya, apabila digunakan untuk kejahatan (misalnya menciptakan monster yang mengganggu umat manusia), maka kegiatan tersebut sangat berlawanan dengan ajaran Islam dan wajib untuk ditentang. Selanjutnya, cara pengambilan dan penggunaan embryonic stemcell untuk stemcell research tersebut perlu diperhitungkan pula dalam pembuatan fatwa tersebut. Apakah cara pengambilan tersebut disamakan dengan pembunuhan (pengorbanan/sacrifice) atau tidak? Kalaupun boleh “digugurkan” atau “dikurbankan”, batasan umur berapa janin tersebut boleh digugurkan? (Note: embryonic stemcell diambil dari janin yang masih sangat muda, sekitar 4 s/d dibawah 3 bulan). Banyak kalangan yang berpendapat bahwa sebelum ditiupkan ruh ke dalam janin tersebut (sekitar hari ke 40), maka janin tersebut belum merupakan “manusia”, sehingga mengambil janin dibawah usia tersebut tidak dianggap sebagai pembunuhan. Karena perbedaan tersebut, maka sangatlah baik lagi apabila tokoh-tokoh Islam, misalnya Majelis Ulama Indonesia (MUI), mengatur atau mengeluarkan fatwa mengenai stemcells research tersebut termasuk cara mendapatkan embryonic stemcells yang tidak bertentangan dengan moral dan etika Islam. Aturan dan fatwa tersebut dapat menjadi acuan bagi pemerintah untuk membuat peraturan mengenai stemcell research, dan sekaligus acuan buat kaum muslim yang terlibat dalam penelitian tersebut. Sebelum menerbitkan fatwa tersebut, ada baiknya agar MUI mempelajari lebih jauh mengenai stemcell research, mencari masukan serta mengambil nasehat dari ahli-ahli biologi atau kedokteran yang terlibat dalam penelitian tersebut. Sehingga, fatwa dari MUI tersebut dapat menjadi arahan moral dan etika yang sangat berharga bagi pelaksanaan stemcell research. Perlu diperhitungkan pula bahwa fatwa tersebut tidak bertentangan atau membatasi perkembangan ilmu pengetahuan karena apabila hal ini terjadi, maka “religion against science” dapat timbul di dunia Islam yang nota bene adalah pendukung dan penganjur ilmu pengetahuan. Wallahu’alam bisssawab!



Sumber: agsofyan
read more "Halal Haram Stem Sel"

Template by:
Free Blog Templates